Select Menu

Sponsor

Select Menu
Terbaru

Headline

Terbaru

Berita

Artikel

Release

Fiqh

Keluarga

Muslimah

Video

Analisis

TEBET, JAKSEL-Alhamdulillah, acara Temu Pembaca Suara Islam dan Majelis Taqarub Ilallah (TPSI-MTI) Ke-45 yang mengangkat tema “MENGUKUR BAHAYA ISU ISIS DI INDONESIA” Sabtu (30/08/2014) berjalan lancar dan sukses. Umat Islam akhirnya sadar bahwa ISIS sudah dibubarkan dan kini yang ada adalah Khilafah Islamiyah. Sedangkan isu ISIS sengaja dibuat oleh BNPT hanya untuk mencari popularitas.
ISIS sudah dibubarkan sejak tanggal 1 Ramadhan 1435 Hijriyyah atau bertepatan dengan tanggal 29 Juni 2014, dan kini telah menjadi Daulah Khilafah Islamiyah atau sering juga disingkat dengan nama Islamic State (IS). demikian Ustadz M Fachry menyampaikan kepada hadirin di Masjid Baiturrahmah, Jl Sahardjo 100, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (30/08/2014).
Diundang acara TPSI-MTI, Ustadz M Fachry mewakili Al-Mustaqbal Channel yang diketahui concern memberitakan Daulah Khilafah Islamiyah dan menjadi pembicara pertama pada acara tersebut. Menurut beliau, Daulah Khilafah Islamiyah adalah janji Allah (QS An-Nur : 55, QS Ash-Shaff : 9) dan Rasul-Nya tentang akan munculnya kembali Khilafah Ala Minhajin Nubuwah.
Acara TPSI-MTI (Temu Pembaca Suara Islam dan Majelis Taqarub Ilallah) dibuka oleh KH. Muhammad Al Khaththath (Sekjen FUI), yang sekaligus bertindak sebagai moderator dalam acara tersebut.
Sebagai pembicara berikutnya adalah Ustadz Munarman, SH, selaku Direktur An Nashr Institute. Menurut beliau isu ISIS sengaja dibuat dan dikembangkan oleh BNPT atau Badan Nasional Penanggulangan Terorisme untuk mencari popularitas.
“Isu ISIS ini sengaja dibuat BNPT untuk mencari popularitas yang telah hilang. Sebab, masyarakat awam ini mulai bosan dengan tayangan televisi yang berisi operasi penyergapan teroris yang ditayangkan di TV One atau Metro TV yang dinilai seperti sinetron,” kata Munarman.


Beliau menambahkan, “BNPT sengaja membuat isu ISIS agar masyarakat mau menerima skenario BNPT dan ditunggu kehadirannya di televisi dalam operasi menangkap para anggota ISIS.”
Selain itu, menurut beliau respon kaum sekuler, kafir, dan munafik terhadap isu ISIS adalah respon orang-orang bodoh, karena mereka sebenarnya tidak faham apa itu ISIS. Mereka hanya menelan mentah-mentah apa yang disiarkan TV dan diberitakan Koran.
Beliau juga mengatakan bahwa isu menjelekkan ISIS sengaja dibuat oleh intel, dimana terlihat spanduk-spanduk yang terlihat di kampung-kampung demikian lucu dan menggelikan, ujarnya. Semua hal ini adalah sekenario besar musuh-musuh Islam yang dikomandani oleh AS, dan think tank mereka, seperti RAND Coperation contohnya.
Acara selanjutnya di isi dengan sesi Tanya jawab, hingga menjelang sholat zuhur. Alhamdulillah, acara berjalan dengan lancer dan sukses, para peserta pun pulang dengan puas dikarenakan mereka sebelumnya tidak faham dengan isu-isu yang selama ini beredar. Alhamdulillah!
Presiden AS Barack Obama, Kamis (28/08/2014), bertemu dengan penasihat keamanan nasionalnya membahas langkah-langkah melawan kemajuan cepat militan Negara Islam atau Daulah Khilafah Islamiyah. Sementara itu, seorang profesor Universitas Princeton memperingatkan bahwa apabila Khilafah Islam gagal dihentikan maka AS bisa menjadi target selanjutnya.
Obama pekan lalu secara resmi memerintahkan pengintaian dari udara di Suriah timur, di mana Negara Islam menguasai wilayah yang luas, selain sebagian besar kawasan di Irak utara dan barat.
Obama sedang mempertimbangkan serangan udara terhadap militan di Suriah, namun Gedung Putih mengatakan Obama diperkirakan belum akan mengumumkan tindakan militer baru setelah rapat tersebut. Presiden dan para penasihatnya, termasuk menlu dan menteri pertahanan, kepala intelijen dan pemimpin militer utama, bertemu di Situation Room di Gedung Putih.
Obama nampak ragu-ragu dalam mengantisipasi perkembangan Khilafah Islamiyah yang semakin cepat, melibas semua yang menghalangi mereka.
Robert George, seorang profesor Universitas Princeton memperingatkan bahwa Daulah Khilafah Islami bisa melakukan eksekusi massal di AS jika tidak segera dihentikan.
“Mereka memiliki planing ini, dan mereka akan berusaha mewujudkan target nya,” kata George. “Kecuali seseorang menghentikan mereka, Mereka mengancam akan melakukan aksi di Amerika Serikat -. Membunuh orang, pembantaian massal di Amerika Serikat ”
“Kesejahteraan kita, keamanan kita, tempat kita di dunia amat terancam oleh ISIS . Mereka tidak akan berhenti … untuk menghancurkan siapa saja yang berdiri menghalangi jalan mereka sampai mereka dapat membangun kekhalifahan, “George menjelaskan.
Sementara itu, rezim syiah di Suriah mengatakan pekan ini akan menyambut baik bantuan Amerika dan Inggris dalam melawan militan Negara Islam (Khilafah Islam) di dalam wilayah Suriah, tetapi mesti berkoordinasi dengan Damaskus. Suriah juga mengatakan akan menanggapi serangan sepihak AS sebagai pelanggaran kawasan udaranya dan kemungkinan akan menembak jatuh pesawat tempur Amerika yang melakukan hal itu.
Amerika mengatakan tidak akan berkonsultasi dahulu dengan Suriah, karena Amerika berulang kali telah menyerukan pengunduran diri Presiden Bashar al-Assad, yang selama tiga tahun terakhir berjuang melawan pemberontak yang berusaha menggulingkannya. Wallahu a’lam bis showab!
Sumber : Diolah dari DBS
Berikut ini adalah kisah perjalanan seorang Mujahid Indonesia, memburu kemuliaan kekal di bumi Khilafah di Iraq dan Suriah. Semoga meraih syahid -InsyaAllah-.
Wildan Mukhallad, pemuda yang namanya tiba-tiba menghiasi setiap sudut media massa nusantara yang tengah gencar-gencarnya mengarahkan anak panah propaganda dan fitnah terhadap sekelompok kecil Mujahidin, yang mengorbankan darah, nyawa dan hartanya demi menjadi pelindung dan penyelamat kaum muslimin Ahlus Sunnah dari tirani Syiah yang aniaya. Merekalah Daulah Islamiyyah atau media menyebutnya dengan nama ISIS.

Sedikit Lebih Dekat dengan Wildan Mukhallad, Seorang Mujahid Daulah yang Mencitakan Syahid

Oleh: Abu Qudama
Ketika itu usianya masih 16 tahun, nama Wildan Mukhallad sudah menjadi perbincangan di pesantren dimana ia tinggal. Remaja yang polos, lugu, yang tak banyak mengenal pergaulan luar lagi liar. Namun polos dan lugunya bukan berarti kebodohan, sebab polos dan lugunya adalah kejujuran, ketulusan, dan apa adanya.
Belum ada hingga kini, di pesantrennya, seorang santri yang setara ‘alimnya dengannya. Betapa tidak, setiap tahun seolah menjadi hari miliknya untuk merayakan juara umum di pesantren. Hampir nilai seluruhnya adalah mumtaz. Dan di usia 16 tahun itu pula, ia menjadi seorang hafidz, satu-satunya santri yang hafidz. Tak pelak, kitab-kitab hadiah hasil deretan prestasi sempat memenuhi tumpukan buku di meja rumahnya.
“Belum ada sampai saat ini,” kisah salah seorang ustadz di pesantrennya,“santri yang selalu mendahului ustadz dan santri lainnya untuk bangun jam tiga malam dan menuju masjid. Melaksanakan shalah tahajjud dan menunggu waktu shubuh sembari muraja’ahhafalannya. Kecuali Wildan.”
Ya, Wildan Mukhallad. Hidupnya adalah kesibukan. Kesibukan dalam menghambakan diri kepada Rabb-nya, kesibukan dalam menenggelamkan diri dengan ilmu dan Al-Quran.
Ia dikenal sebagai santri yang ringan tangan. Suka membantu orang lain. Pekerjaan mengantar-jemput anak-anak ustadznya ke sekolah, hingga membantu mengambilkan rumput ke ladang/sawah untuk pakan ternak milik ustadznya adalah hal biasa. Sangat biasa. Tidak ada dalam kamusnya sikap gengsi, tidak ada dalam benaknya sekecil amal shalih yang dianggap dapat menjatuhkan harga diri. Disinilah ia memulai tahap berjihad, dari memerangi hawa nafsu yang remeh temeh hingga pada akhirnya menerjunkan diri dalam berjihad memerangi orang-orang kafir.
Jangan ditanya soal pemahaman ilmu syar’i, sebab ketinggian ilmunya adalah ketinggian rendah hatinya. Pemalu, pendiam, dan santun pada setiap lawan bicaranya. Tidak banyak mengumbar kata, tidak banyak mengumbar bicara. Tetapi tindak tanduknya adalah mengesankan, ketekunan ibadahnya adalah mengagumkan. Anak sekecil itu, waktu itu, adalah tidak wajar dalam hampir setiap tema bicaranya adalah kepedulian terhadap nasib kaum muslimin. Ia seringkali mengucap kalimat yang seolah menjadi dzikir dalam kesehariannya; jihad fi sabilillah.
Sempat menjadi kebingungan, sekaligus kekhawatiran keluarga. Bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah begitu serius mengucap kata-kata jihad dan mati syahid. Tetapi kekokohan Wildan adalah kekokohan imannya.
Sehingga ketika ia harus dipindahkan dari pesantrennya untuk bersekolah setara SMA di Al-Azhar, Mesir, ia berucap samar kepada salah seorang kakaknya saat berpamitan, “Kak, doakan.” Suara itu terdengar seperti nada ucapan ‘licik’, yaitu agar di sana ia menemukan jalan untuk berjihad. Wallahu a’lam.
Di Mesir, di sekolahnya itu ia tetaplah remaja yang cerdas. Ia bahkan sempat mengikuti program akselerasi. Tak berselang lama kemudian, ketika ia baru saja menjadi Mahasiswa Al-Azhar, ia tiba-tiba menghilang setelah beberapa waktu intens bergumul dengan orang-orang luar negeri. Dan benar, beberapa waktu setelahnya ia muncul dengan nomor telepon yang tak dikenal, “Alhamdulillah, saya sudah di bumi Syam. Bumi yang dimuliakan Allah.”
Masya Allah, Masya Allah. Antara sedih dan bahagia, antara khawatir dan gegap gempita. Tetapi di saat ia ditangisi oleh anggota keluarga, ia justru hadir sebagai menghibur, “Nikmat jihad tidak dapat terlukiskan!” katanya.
Ia bahkan sempat bercanda ketika menceritakan betapa indah selama perjalanan melihat pegunungan-pegunungan di Istanbul, bergaya seperti pemuda kaya raya, dan menikmati view dataran tinggi yang berlapis salju. “Ini saya lagi bertamasya,” katanya. “Dan tamasyanya orang-orang yang beriman adalah jihad fi sabilillah.”
Ia bercerita ketika awal di Suriah masih sekadar menjadi “pembantu”, menjadi anak yang diperbantukan mengambilkan peluru dan senjata. Kemudian naik pangkat menjadi “polisi lalu lintas”, lalu ditugaskan untuk ribath di pegunungan, sampai pada puncaknya berdiri di front terdepan pertempuran.
“Saya berdiri hanya berjarak empat meter dari orang-orang Syiah Nushairiyah. Kita berhadap-hadapan dan saling ejek, tapi sekali gertak mereka lari tunggang langgang. Mental mereka sangat rendah di hadapan para Mujahidin,” serunya sembari berbagi tawa.
Aleppo, tempat pertama ia singgah, di sebuah villa di pegunungan. “Villa yang saya tempati ini hasil ghanimah, miliknya orang kafir Syiah,” ucapnya riang.
Di sana, disamping karena ia adalah seorang hafidz, ia juga memiliki suara emas sehingga ia dipercaya untuk menjadi imam shalat para Mujahidin.Seluruh masyarakat tetangga menyambut baik, sehingga suatu saat ia bercerita, “Baru kali ini saya merasa menjadi orang kaya. Memegang uang banyak. Semuanya dikasih oleh tetangga-tetangga.”
Disamping itu ia dikenal sebagai seorang remaja yang mumtaz akhlaknya oleh para mujahidin. Kehadirannya sebagai seorang mujahid remaja sangat disegani, dihormati, dan diakui kualitas akhlak dan ibadahnya.
Kemudian di titik inilah, dengan nada yang begitu tenang ia menyampaikan sebuah pesan yang menggetarkan, “Saya tidak bisa membalas kebaikan Ma’e (ibu), saya hanya ingin memberikan kepadanya hadiah, syahid fi sabilillah.”
Tak berselang lama setelah itu tibalah saatnya ia berpindah tempat tugas, di suatu tempat yang tidak ia sebutkan. Namun di suatu hari semua itu menjadi tampak jelas, bahwa ia telah berada di Irak. Kabar tersebut hadir seiring dengan datangnya berita bahwa ia telah melakukan amaliyah istisyhadiyah, meluluh-lantakkan barisan pasukan rezim Syiah Shafawiyah, Nuri Al-Maliki. Allahu Akbar, Allahu Akbar!
Inilah Wildan Mukhallad. Remaja yang di media-media sekular disebut sebagai remaja ingusan yang mati konyol, yang mati sangit, oleh wartawan-wartawan yang mencari makan dan mengisi perutnya dengan cara menyakiti hati hamba Allah yang ikhlas.
Inilah Wildan Mukhallad. Remaja yang dibenci karena kekokohan aqidahnya, bukan karena keburukan akhlaknya. Ia menjemput kematian dengan ilmunya, bukan dengan kebodohannya.Wallahu a’lam bil-haqqi wal-waqi’. [AW/Shoutussalam]
Tulisan ini sekaligus surat untuk Ibu Fadhilah, agar teduh hatinya setelah beberapa minggu dihujani badai fitnah. Ibu yang kokoh hatinya, sekokoh prinsip anakmu yang memilih jalan kesyahidan
Beralasan dengan asumsi ancaman genosida yang digembar-gemborkan oleh Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry mengungkapkan pentingnya aliansi global melawan Daulah Islamiyah.
John Kerry menulis essai di Washington Post pada Sabtu (30/08/2014) mengenai topik tersebut. Secara eksplisit dalam tulisannya, John Kerry menyebut Islamic State of Iraq dan Syria (ISIS), sebuah nama yang sebenarnya salah kaprah.
“Dengan respon bersatu yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan koalisi memungkinkan yang lebih luas dari negara-negara, kanker ISIS tak bisa menyebar ke negara lainnya,” demikian dikutip kalimatnya di Al-Arabiya.
Sebelumnya, Obama justru malah menyampaikan semacam pesimisme kepada dunia internasional, bahwasanya Amerika belum memiliki strategi khusus guna membendung gerak laju Daulah Islamiyah.
Sikap menggembar-gemborkan asumsi ancaman genosida ini tentunya kontras dengan respon Amerika yang dingin beku dengan ribuan korban Israel di Gaza, serta masih menyokong penuh kebijakan Penjajah Zionis tersebut.
[sksd/dbs/shoutussalam]
Mujahidin Daulah Islamiyyah menggelar even dakwah dan hiburan bertajuk “Tenda Dakwah” untuk yang ketiga kalinya di Provinsi Deir al Zour, Suriah Timur. Kali ini diadakan di kota pusat Deir al Zour, setelah dua acara sebelumnya digelar di kota Mayadin, dimana Mujahidin menyempatkan waktu seharian bermain bersama kaum muslimin.
Dalam acara ini, Mujahidin memberikan banyak kegiatan hiburan dan permainan yang erat kaitannya dengan dakwah Islam. Disediakan banyak hadiah bagi para pemnang kontes. Selain itu, terdapat acara nonton bareng video-video Jihad spektakuler Daulah Islamiyyah.
Daulah Islamiyyah pun berhasil mengembalikan senyum bahagia dan mimik wajah keceriaan kaum muslimin Suriah, di tengah gencarnya serangan sporadis bombardir pesawat dan artilleri rezim Nushairiyyah Bashar Assad.
Berikut ini reportase foto yang dipublikasikan oleh Kantor Media Daulah Islamiyyah wilayah al Khoyr!
[arkan/alkhoyr]
Sabtu (30/8/2014), sejumlah sumber-sumber media independen melaporkan, pertempuran meletus di sejumlah wilayah Provinsi Barat Iran, antara kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Mujahidin Daulah Islamiyyah melawan pasukan Syiah Garda Revolusi Iran.
Channel Televisi Yordania, al Taghir TV mengabarkan bahwa bendera-bendera Daulah Islamiyyah berkibar di tujuh kota kawasan Kurdistan, Barat Laut Iran. Sementara itu, situs berita Kurdistan Press Agency, melaporkan bentrokan senjata antara Mujahidin Daulah Islamiyyah melawan aparat keamanan Iran terjadi di kota Urmia.
Iran segera mengerahkan bala tentaranya mengepung kota Urmia, dan melawan gerakan bersenjata di tujuh kota lainnya, dikutip dari laporan Kantor Berita BBC Persia. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi kebenaran terkait klaim bahwa pertempuran melibatkan Mujahidin Daulah Islamiyyah.
Iran telah meningkatkan jumlah pasukannya untuk mengamankan wilayah perbatasannya dengan Iraq, pasca dikuasainya kota Jalawla di Provinsi Diyala, Iraq oleh Mujahidin Daulah Islamiyyah. Ribuan tentara paramiliter Iran juga telah dikerahkan membantu pasukan sekuler Kurdistan Iraq Peshmerga untuk merebut kembali kota yang tak jauh dari perbatasan tersebut.
Dalam laporan sebelumnya oleh Al Arabiyya, mulai bermunculan banyak dukungan-dukungan dari kaum muslimin Ahlus Sunnah yang tertindas di Iran, khususnya di wilayah-wilayah Provinsi Kurdistan dan Balochistan, sebagaimana halnya Daulah Islamiyyah di Iraq dan Suriah dielu-elukan dan dibangga-banggakan sebagai pahlawan Ahlus Sunnah.
Rezim Syiah Iran juga telah menangkap empat orang Muslim Sunni dengan tuduhan mengumpulkan dana bantuan untuk Mujahidin Daulah Islamiyyah. [arkan/dbs/shoutussalam]


RAQQA - Abu Bakar al-Baghdadi yang menyatakan diri sebagai Khalifah Islam sedunia, menawarkan hibah senilai $1.200 atau sekitar Rp14 juta untuk warga negara khilafah yang akan menikah. Laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia juga mengungkapkan Hibah senilai Rp14 juta itu dalam bentuk perumahan dan hadiah lainnya.
 
Pada bulan Juli 2014, Khilafah Islamiyyah pernah membuat heboh dunia dengan membuka biro perkawinan bagi warganya. Petugas rutin mendatangi rumah-rumah warga di Suriah untuk mendata mereka yang masih jomblo. 
 
“Mereka akan datang mengetuk pintu (rumah-rumah warga),” bunyi pernyataan observatorium. 
 
”Mencari wanita lajang dan janda yang ingin menikah dengan pasukan khilafah,” lanjut pernyataan observatorium, seperti dikutip Al Arabiya, Jumat (29/8/2014).
 
”Mereka mengatakan bahwa banyak pejuang mereka belum menikah dan ingin seorang istri. Mereka  datang ke rumah saya untuk melihat KTP perempuan untuk dilihat status perkawinannya,” kata  seorang wanita di Raqqa, kepada Independent.
 
”Mereka meminta kami. Mereka mengatakan, bahwa mereka akan memberi kita rumah dan kami akan menjalani kehidupan bahagia,” kata perempuan Raqqa yang minta syarat anonim saat wawancara, karena menyangkut keselamatannya.
Dalam permasalahan imamah, Imam Syafi’i mengutip perkataan Imam Ali bin Abi Thalib ra yang menyatakan bahwa Imamah dalam Islam “Wajib ditegakkan dibawah kepemimpinan kaum Muslimin sehingga kalangan kafir pun dapat menikmati hak-haknya dengan baik, dengannya peperangan melawan musuh dicanangkan, stabilitas keamanan terjaga, kaum tertindas terlindungi dari pihak zalim, orang-orang yang baik dapat hidup tenang dan dapat terhindar dari ancaman orang-orang yang jahat. “Sebagaimana yang dianut oleh mayoritas ulama, Imam Syafi’i ra berpendapat bahwa imamah harus dipegang oleh kaum Quraisy. Menurut beliau, Imamah bisa saja terwujud tanpa baiat, jika memang terpaksa harus dengan cara seperti itu. Oleh karena itu diriwayatkan oleh muridnya yang bernama Harmalah bahwa sang Imam Syafii berkata “Setiap orang yang berasal dari kalangan Quraisy dan merebut kekhalifahan dengan cara kekerasan, kemudian masyarakat berkumpul dan mendukungnya, maka ia menjadi khalifah yang sah.”
Menurut Imam Syafi’i ra, ada dua kriteria yang dapat dijadikan patokan mengenai sahnya seorang menjabat sebagai khalifah;
  1. Orang yang akan menjadi khalifah harus berasal dari suku Quraisy
  2. Dukungan dan pengakuan masyarakat kepadanya, baik dukungan tersebut sebelum pengangkatannya sebagai khalifah seperti  baiat, atau dukungan tersebut datang sesudah pengangkatannya, seperti seseorang yang berhasil mengalahkan pihak yang berkuasa dan merebut kekuasaan dan setelah itu mendapatkan pengakuan dan legitimasi dari rakyat
Terlihat dari pernyatannya di atas bahwa Imam Syafi’i tidak memberikan syarat lain kecuali bahwa khalifah tersebut harus berasal dari keturunan Quraisy, bukan Bani Hasyim. Disimpulkan dari sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata “Khilafa Rasyidin berjumlah lima, empat orang sebelumnya (Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra, Ali ra), kemudian khalifah Umar bin Abdul Aziz. “Jika Imam Syafi’i mewajibkan bahwa pengangkatan khalifah harus berasal dari keturunan Bani Hasyim, tentu beliau tidak memasukkan Umar bin Abdul Aziz sebagai khilafah yang sah, Sebab Umar bin Abdul Aziz berasal dari keturunan Bani Umayyah dan khalifah yang berasal dari kalangan Bani Hasyim hanya satu yaitu Imam Ali ra.
Inilah pendapat popular Imam Syafi’i berkenaan dengan kepemimpinan di dalam Islam. Sementara itu, berkenaan dengan permasalahan siapa yang lebih layak menjadi khilafah setelah Rasulullah saw wafat, maka Imam Syafi’i berpendapat bahwa Abu Bakar ra lebih utama memegang jabatan kekhalifan dibandingkan dengan Imam Ali ra. Hal ini didasari oleh dua hadis Rasulullah saw berikut ini
Hadis Pertama: Dengan sanad yang tersambung langsung kepada Imam Syafi’I diriwayatkan bahwa suatu saat pernah seorang wanita mendatangi Rasulullah saw dan menanyakan sesuatu kepada beliau, kemudian Nabi saw memerintahkan wanita itu untuk kembali pulang ke rumahnya. Mendengar jawaban tersebut, wanita itu berkata,
“Wahai Rasulullah, jika aku kembali, aku khawatir tidak dapat bertemu lagi dengan anda (wanita itu mengisyaratkan kekhawatirannya akan kepergian Rasul ke sisi Allah SWT). Nabi menjawab, “Datanglah kepada Abu Bakar.”
Hadis ini merupakan sebuah isyarat dari Nabi saw bahwa Abu Bakar ra adalah orang yang akan menjadi pengganti setelah beliau wafat.
Hadis Kedua: Diriwayatkan dengan sanad yang langsung sampai kepada Imam Syafi’I ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ikutilah (jadikanlah sebagai teladan kalian) dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar”.
Berkenaan dengan permasalahan siapakah di antara empat khalifah pengganti Rasulullah saw yang paling utama, Imam Syafi’I ra menentukannya berdasarkan urutan pergantian khalifah, sehingga jika demikian yang paling utama adalah Abu Bakar, kemudian Umar, Utsman dan Ali ra. Selanjutnya dalam hal pertentangan yang terjadi antara Imam Ali rad an Muawiyah bin Abu Sufyan, maka Imam Syafi’I menganggap bahwa Muawiyah dan orang-orang yang mendukungnya adalah kaum bughat yang menurut Al-Quran wajib ditumpas habis, kecuali jika mereka kembali kepada jalan Allah. Oleh karena itu, dalam kitab as-Siyar beliau menegaskan bahwa sikap Imam Ali dalam menghadapi pihak bughat adalah hujah.
Inilah beberapa pendapat Imam Syafi’I tentang permasalahan imamah dan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat ra, Meski demikian, sebagaimana kaum Muslim yang lain, Imam Syafi’I ra sangat mencintai keluarga Nabi saw dan keturunannya yang suci dan diberkahi. Perasaan ini pula yang terpatri di seluruh hati kaum Muslim yang ikhlas.   Ketakjubannya terhadap sosok Imam Ali ra ini merupakan satu hal yang sudah menjadi rahasia umum pada saat itu. Di sebutkan bahwa dalam suatu kesempatan beliau pernah menyebut nama Imam Ali ra dalam majelisnya. Kemudian ada seorang laki-laki yang berkomentar, “Sesungguhnya penyebab utama berpalingnya orang-orang dari Imam Ali ra adalah sikap tegas beliau sendiri yang tidak peduli kepada siapa pun. Mendengar pernyataan tersebut sang Imam menjawab, “Ada empat perkara jika salah satu dari keempat perkara tersebut ada dalam diri seseorang, maka ia berhak untuk tidak peduli kepada orang lain; pertama adalah seorang yang zuhud, dan orang yang zuhud tidak peduli dengan dunia dan orang- orang yang tertipu dengannya. Kedua adalah orang yang berilmu, dan orang yang berilmu tidak akan peduli dengan cercaan orang lain yang bodoh. Ketiga adalah orang yang berani, dan orang yang berani tidak akan peduli terhadap siapa pun yang dihadapinya. Keempat adalah orang yang mulia. Orang yang mulia tidak akan peduli dengan penilaian siapa pun.”
Dalam kesempatan lain Imam Syafi’I mengomentari sosok Imam Ali ra dengan berkata; “Imam Ali ra adalah seorang yang mempunyai pengetahuan khusus dan mendalam tentang Al-Qur’an dan fiqih, Beliau pernah didoakan secara khusus oleh Nabi saw dan ditugaskan oleh Nabi saw menjadi qadhi untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi di tengah masyarakat. Di saat perkara yang dipersengketakan tersebut di ajukan lagi kepada Nabi saw, Nabi saw tetap memutuskan sebagaimana yamh diputuskan oleh Imam Ali ra.
Mengenai pendapat Imam Syafi’I ra yang menjadikan sikap Imam Ali ra dalam memerangi kalangan bughat sebagai hujah, hal ini tercatat dalam buku beliau al Umm dan dalam buku-buku lainnya yang menerangkan dasar-dasar mazhabnya.
Imam Ahmad bin Hanbal ra juga mengisahkan sikap Imam Syafi’I yang demikian. Al- Abiri dalam bukunya manaqih asy-syafi’I,
Imam Ahmad ra pernah dikabarkan bahwa Yahya bin Muin menyebut Imam Syafi’I sebagai seorang yang beraliran Syiah. Kemudian Imam Ahmad bertanya kepada yahya bin Muin, “Dengan dasar apa Anda mempunyai kesimpulan demikian?” Yahya menjawab, “Saya telah melihat buktinya dalam buku- buku karya Imam Syafi’I, yaitu pada saat beliau berbicara tentang cara menyikapi kaum bughat. Dalam permasalahan tersebut, dari awal sampai akhir pembahasan, Imam Syafi;I berhujah dengan sikap Imam Ali ra. “Imam Ahmad bin Hanbal ra menjawab, “Anda aneh sekali. Jika tidak berhujah dengan sikap Imam Ali ra, dengan sikap siapa lagi Imam Syafi’I berhujah dalam permasalahan ini? Bukankah pemimpin Islam yang pertama kali berhadapan langsung memerangi kaum bughat adalah Imam Ali ra?” Mendengar jawaban Imam Ahmad tersebut, Yahya malu karena pernyatannya tuduhannya itu.
Demikianlah, kami melihat sosok Imam Syafi’I senantiasa berada pada posisi tengah dan selalu bersikap moderat dalam mengemukakan pendapat-pendapatnya. Imam Syafi’I ra sangat mencintai dan kagum dengan sosok kepribadian Imam Ali ra. Beliau menganggap sikap Imam Ali ra dalam memerangi kalangan bughat sebagai hujah. Meski demikian, perasaan tersebut tidak membuatnya lebih mengutamakan Imam Ali ra dibandingkan dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman ra. Bahkan jika ada orang yang menyebutkan permasalahan ini, beliau akan menyebutkan kecintannya kepada Imam Ali ra lalu melanjutkan pernyatannya dengan mengatakan. “Akan tetapi, sejarah tidaklah sebagaimana yang kita harapkan”. (Dinukil dari kitab Imam As Syafi’i sejarah dan pemikirannya)
(eramuslim)

LONDON, UK-Hamzah Parves, Mujahidin Daulah Khilafah Islamiyah asal Inggris muncul dalam tayangan ITV News, bersama Rageh Omaar, sang editor. Dalam wawancara dia mengatakan, ada pekerjaan untuk dokter, perawat, arsitek, pembangun bahkan untuk pembersih jalan di Negara Islam. Allahu Akbar!
Dalam video yang diposting di media sosial, Hamzah Parvez – berbicara dengan aksen London – mengklaim telah meninggalkan Inggris untuk bergabung dengan militan Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah.
Keluarganya selama ini mengetahui Hamzah pergi ke Jerman, hingga Hamzah akhirnya menghubungi mereka dan mengatakan bahwa dirinya sudah berada di Negeri Jihad dan mengatakan telah berjuang sebagian besar di Irak selama antara 5-6 bulan.
Beliau (Hamzah) mengatakan, ini adalah era keemasan jihad, apa yang kita lakukan duduk di Inggris … Ini bukan lahan untuk kami.Dia mendesak masyarakat yang tidak ingin memperjuangkan Khilafah Islam agar lebih baik diam, daripada mencegah orang lain untuk ke Iraq dan Suriah.
Diajuga mengatakan ada “pekerjaan untuk dokter, perawat, arsitek, pembangun bahkan untuk pembersih jalan di Negara Islam”.
Sumber : Diolah dari ITV.com

Mujahidin Daulah Islamiyyah kembali menghancurkan sejumlah situs bangunan yang menjadi ajang praktik kesyirikan di wilayah Aleppo Utara dan Timur, untuk menjaga dan melindungi ruh tauhid kaum muslimin, menumbangkan sesembahan-sesembahan selain Allah.
Dalam sejumlah foto yang dipublikasikan oleh Kantor Media wilayah Halab, Mujahidin Daulah Islamiyyah merobohkan bangunan makam yang disembah di desa Khatoniyyah, Distrik Sarrin dan di desa Abu Qal Qal di dekat Distrik Manbij.
Alhamdulillah, upaya penghancuran kesyirikan dan penegakan Tauhid ini mendapatkan sambutan baik dan positif dari penduduk kaum muslimin setempat, bahkan mereka membantu Mujahidin saat merobohkan bangunan-bangunan itu.
[arkan/hlb]