Select Menu

Sponsor

Select Menu
Terbaru

Headline

Terbaru

Berita

Artikel

Release

Fiqh

Keluarga

Muslimah

Video

Analisis

Bekerja atau jadi seorang ibu rumah tangga adalah merupakan pilihan bagi seorang wanita, khususnya seorang ibu. Di pundak seorang ibu ada tugas mulia yakni sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu, sebagai seorang yang berkewajiban menjaga dan merawat rumah tangga, memberikan hak-hak kepada suami, memberikan perasaan damai dan bahagia ketika berada di sisinya, menyiapkan makan, minum dan pakaian, dan yang lebih utama yakni mengasuh dan mendidik generasi yang Islami. Semua tugas tersebut akan dimintai pertanggungjawabannya kelak sebagaimana sabda Rasulullah Saw :
“Ingatlah, setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian pasti akan dimintai pertaggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Setiap istri adalah pemimpin dan penjaga rumah suami dan anak. Ingatlah, setiap dari kalian adalah pemimpin, dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kalian pimpin. “(HR. Bukhari-Muslim)
“Seorang istri adalah penjaga dan perawat rumah keluarga, dan ia akan mempertanggungjawabkannya kelak. “(HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
            Bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi bagaimana jika wanita ingin bekerja. Apakah ada syarat-syarat yang harus diperhatikan oleh seorang wanita/istri untuk memilih bekerja daripada jadi ibu rumah tangga? Dan apakah wanita boleh bekerja?
Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syari’at, tidak mengundang bahaya keselamatan dan agamanya dan jika memang ada kondisi yang benar-benar memaksa seorang istri bekerja di luar rumah. Adapun syarat-syarat secara syar’i yang harus diperhatikan bagi seorang wanita ataupun seorang istri untuk bekerja di luar rumah yakni sebagai berikut :
  1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan di dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya, dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.
  1. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib mentaati suaminya.
“Suatu hari Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian? Rasulullah Saw pun menjawab bahwa diantaranya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. “(HR. Bukhari Muslim)
  1. Menerapkan adab-adab Islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syar’i, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahrom, dll.
  1. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.
  1. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.
Seorang wanita yang bekerja di luar rumah memiliki banyak dampak negatif terhadap dirinya sendiri maupun keluarganya. Hal ini disebabkan pekerjaan di luar rumah telah menguras banyak sekali tenaga dan pikirannya, sehingga ketika ia telah tiba di rumah, maka ia merasa sangat penat dan capek sekali. Kejiwaan dan emosionalnya tidak stabil lagi, sehingga ia mudah sekali marah dan tersinggung, hanya mendengar suara suami atau anaknya saja bisa membuat dia marah.
Biasanya, hubungan antara suami dan istri yang bekerja di luar rumah hanya hubungan yang berdasarkan materi belaka, dan hubungan seperti ini kerap kali memicu munculnya ketegangan dan perselisihan ataupun pertengkaran yang tajam, yang saling menyakiti satu sama lainnya. Hal ini tentunya dapat merusak hubungan kemesraan dan kasih sayang antara suami dan istri, tak terkecuali anak-anak.
Belum lagi masalah yang lain akan muncul yakni karena percampuran antara laki-laki dan perempuan di luar seperti di kantor, jalan, angkutan, mall, dll. Seperti yang kita ketahui bahwa Allah Swt menciptakan laki-laki dalam keadaan punya kecenderungan yang kuat pada wanita. Demikian pula sebaliknya, wanita punya kecenderungan kepada lelaki. Bila terjadi ikhtilat (percampuran) tentunya akan menimbulkan dampak negatif dan mengantarkan kepada kejelekan. Karena jiwa cenderung mengajak kepada kejelekan dan hawa nafsu itu dapat membuat seseorang menjadi buta dan tuli pada kebenaran dan apa yang dilarang oleh agama.
Sementara setan mengajak kepada perbuatan keji dan mungkar. Bagaimana bisa menahan pandangan dalam kondisi seperti ini? Sementara Allah Swt dan Rasulullah Saw telah memerintahkan pada kaum laki-laki dan perempuan untuk menahan pandangan seperti dalam firman Allah Swt berikut :
“Katakanlah (ya Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka….”(An-Nur 30-31)
“Jarir bin Abdillah ra. Berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja), maka beliau memerintahkan aku untuk memalingkan pandanganku. “(HR. Muslim)
Kepala keluarga sebagai penanggung jawab utama urusan luar rumah, dan ibu sebagai penanggung jawab utama urusan dalam rumah. Jika aturan ini benar-benar diterapkan oleh suami sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab utama dalam urusan di luar rumah yakni mencari nafkah dan istri sebagai ibu rumah tangga yang mengatur segala urusan dalam rumah, dan antara satu sama lain saling memahami tugas masing-masing, niscaya terbangun tatanan kehidupan yang maju dan berimbang dalam bidang moral dan materialnya, tercapai ketentraman lahir batinnya, dan juga tercapai kebahagiaan dunia akhiratnya.
Memang, seringkali kita butuh waktu dan prosesdalam menerapkan syariat dalam kehidupan kita, semua tidak ada yang instan. Tapi tetaplah berjuang untuk mencapai ridho-Nya dan peganglah terus firman-Nya:
Bertaqwalah kepada Alloh semampumu!” (QS. At-Taghabun:16)
Jika tekadmu sudah bulat, maka tawakkal-lah kepada Alloh!” (QS. Al Imran:159)
“Ingatlah kepada Allah ketika dalam kemudahan, niscaya Allah akan mengingatmu ketika dalam kesusahan!” (HR. Ahmad)
“Sungguh kamu tidak meninggalkan sesuatu karena takwa mu kepada Alloh azza wa jalla, melainkan Alloh pasti akan member mu ganti yang lebih baik darinya” (HR. Ahmad)
Kadang terlintas dalam benak kita, mengapa Islam terkesan mengekang wanita? Inilah doktrin yang selama ini sering disuarakan para musuh Islam, mereka menyuarakan pembebasan wanita, padahal dibalik itu mereka ingin menjadikan para wanita sebagai obyek nafsunya, mereka ingin bebas menikmati keindahan wanita, dengan lebih dahulu menurunkan martabatnya, mereka ingin merusak wanita yang teguh dengan agamanya agar mau mempertontonkan auratnya, sebagaimana mereka telah merusak kaum wanita mereka. Mereka ingin agar para muslimah rusak moralnya, akidahnya, hancur rumah tangganya dengan dalih alasan ekonomi.
Sungguh Islam merupakan aturan dan syariat yang paling tepat untuk manusia. Aturan itu bukan untuk mengekang, tapi untuk mengatur jalan hidup manusia, menuju perbaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Islam dan pemeluknya, ibarat terapi dan tubuh manusia, Islam akan memperbaiki keadaan pemeluknya, sebagaimana terapi akan memperbaiki tubuh manusia.
Jadi Islam tidak mengekang wanita, tapi mengatur wanita agar hidupnya menjadi baik, selamat, tentram, dan bahagia dunia akhirat. Begitulah cara Islam menghormati wanita, menjauhkan mereka dari pekerjaan yang memberatkan mereka, menghidarkan mereka dari bahaya yang banyak mengancam mereka di luar rumah, dan menjaga kehormatan mereka dari niat jahat orang yang hidup di sekitarnya, dan tentunya mengajak kaum wanita menuju Jannah-Nya.
Allahu Akbar…
“Awalnya, kebohongan adalah hal yang wajar terjadi pada diri anak. Ia hanyalah merupakan sebuah bagian dari proses perkembangan kepribadiannya.”

Peristiwa pembohongan ini sebenarnya tidak selalu berkonotasi negatif. Dalam kondisi tertentu, seseorang memerlukan keahlian berbohong dalam kebaikkan. Seperti ketika perang misalnya. Pada dasarnya, mereka sedang adu taktik, adu strategi. Sedangkan taktik identik dengan kebohongan, maka seorang ahli perang, pranglima perang, haruslah orang yang pandai berbohong.

Cari Kuncinya

Serupa dengan apa yang terjadi pada diri anak usia dini, maka kebohongan yang mereka lakukan harus dapat diarahkan sedemikian rupa, sehingga tidak menjadi kebiasaan buruk.

Mencari kunci penyebab kebohongan anak ini akan sangat menentukan, karena cara penyelesaian yang ditempuh berbeda satu sama lain. Begitu pula nasehat yang harus didengarkan setiap anak pasti tidak sama.

Kunci yang pertama adalah Haus Pujian.

Mendapatkan pujian adalah kebutuhan naluri anak dan orangtua tak perlu mengekang kebutuhan ini selama ditempatkan secara ohong, benar. Apabila kebutuhan ini tidak tercukupi, sangat besar kemungkinan anak  berbohong, membaik-baikkan dirinya sendiri di depan orang tuanya karena haus akan sanjungan dan pujian.

Kunci yang kedua adalah Dunia Fantasi.

Dunia anak adalah dunia dongeng, dunia seribu satu malam. Tokoh dalam dongengpun seringkali sekaligus menjdi tokoh idola mereka. Itu sebabnya dongeng yang diperdengarkan bagi anak-anak haruslah terseleksi secara benar. Misalnya saja kisah mengenai Rasululloh Shalallahu’alaihi wassalam, para sahabat/shahabiyah, dan msih banyak lagi. Maka cukuplah bagi anak-anak kisah teladan ini.

Kunci yang ketiga adalah Imajinasi.



Kebohongan tentang kejadian-kejadian yang tak amsuk akalpun sering terlontar dari mulut si kecil. Orang tua perlu menghargai imajinasi ini. Jangan menghina, mencemooh atau meremehkan imajinasinya. Yang harus dilakukan adalah memberi pengertian kepada anak sedikit demi sedikit, mana yang imajinasi mana yang sebenarnya. Kelak anak perlu mengerti batas antara dunia imajinasi dan dunia nyata.

Kunci yang keempat adalah Pahitnya Kejujuran.

Seharusnya orang tua mau berlapang dada untuk mendengarkan hal-hal yang pahit dari kejujuran. Namun hal itu jangan sampai menjadikan kita kesal sehingga memberi kesempatan anak untuk berbuat dusta gara-gara kita ingin ia mengatakan sesuatu yang menyenangkan orang tuanya.

Sudah sepantasnya bila setiap kejujuran yang dikemukakan anak dibanggakan oleh orangtuanya. Sepahit apapun kejujuran itu. Bahkan sekalipun mereka salah dalam kejujuran itu. tentu yang dibanggakan bukan kesalahannya, tetapi keberaniannya mengaku salah.

Kunci yang kelima adalah Menyembunyikan Kesalahan.

Sepintas lalu, anak yang berani berbohong memang pantas dihukum mengingat perbuatan ini tercela. Namun masih saja orang tua patut berhati-hati dalam menerapkan hukuman bagi anak. Karena tak jarang penyebab keberanian anak berbohong adalah tindakan orangtua sehari-hari yang barangkali tak disadari pengaruhnya.

Misalnya, Khaulah. Ketika Ibunya pergi berbelanja ia masih asik bermain dengan kucingnya dihalaman. Tanpa sengaja, ia memecahkan pot bunga milik ibunya. Karena ia tahu, bahwa ia akan dihukum oleh ibu karena kesalahannya. Maka ia pun menyembunyikan kesalahannya, dan melimpahkannya pada si kucing. Bahwa kucing tersebut yang telah memecahkan pot bunga milik ibu.

Bila seandainya ibu tidak terlalu gampang menjatuhkan hukuman, tak akan ada ketakutan dari Khaulah untuk mengakui kesalahannya. Sebaliknya, justru ia berani untuk menjelaskannya pada ibu, bahwa ia tidak sengaja memecahkan pot bunga tersebut. Sehingga nantinya ia bisa membedakan mana perbuatan yang salah dan benar.

Kunci yang keenam adalah Imitasi Kebohongan.

Anak seorang penipu mempunyai peluang besar menjadi penipu juga. Dan ini sangat mudah terjadi, kalau orang tua tidak betul hati-hati dalam mendidik anak. Sifat Khas seorang anak adlaah perilaku imitasi. Hampir semua pelajaran kehidupan ini diperoleh dari tindakan peniruan.

Kunci yang terakhir adalah Perhatian Negatif.

Ketika anak pulang dari sekolahnya, langsung disambut ibu dengan berondongan pertanyaan. yang menjadi pusat perhatian ibu adlaah laporan-laporan negatif. Ini karena Ibu dibayang-bayangi kekhawatiran anaknya akan berbohong. Yang terlupa ditanyakan adalah perbuatan baik anak. Dan tak pernah mendapat pujian dari ibu.

Janganlah orang tua lupa  bahwa anak tetap mempunyai keinginan untuk dipuji. Maka, berikanlah pujian di saat ia memang pantas dipuji dan berikan peringatan manakala ia melakukan kesalahan. Katakanlah ia salah kalau ia salah, tetapi jangan lupa memuji jika ia melakukan tindakan positif. Lama kelamaan anak akan bisa memilih yang benar saja dalam tindakannya dan akan berushaa mengubah yang salah. Sikap adil dari orang tua ini dengan sendirinya akan menjauhkan anak dari kebohongan.

wallahua’lam bishshowab

sumber : Mendidik Dengan Cinta, Irawati Istadi
Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam mengibaratkan anak seperti kertas putih bersih tergantung pada orang tuanya, mau ditulis dengan tinta warna merah, hijau, atau jingga. Orang tua terlalu cepat memvonis anak nakal, malas, bandel, atau bahkan durhaka terhadap anak-anaknya sendiri, padahal merekalah yang paling dominan membentuk karakter dari kepribadiannya. Kalaupun itu benar, bukankah para orang tua yang lebih bertanggung jawab atas sifat-sifat buruk itu?

Realitas ini perlu diketahui, sebab sering terjadi, orang tua yang sangat mencintai anaknya harus kecewa melihat kenyataan si anak menjadi bengal dan pembantah. Orang tua merasa telah mengorbankan apa saja demi anaknya, tapi justru mereka menjadi pemberontak. Para orang tua banyak yang salah memilih metode pendidikan. Sebagian orang tua menganggap bahwa untuk meluruskan sikap anak yang kurang baik harus ditempuh dengan cara -cara yang keras, seperti menghukum, berkata-kata keras dan kasar. Cara seperti itu tak mungkin berhasil malah sebaliknya dapat menimbulkan dendam pada diri anak.

Dalam al-Qur’an Allah mengingatkan secara khusus kepada Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam agar meninggalkan cara-cara kasar, sebab kekasaran bukan mendekatkan ummat kepadaNya, tapi justru akan menjauhkannya.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka karena rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan  dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam sesuatu urusan.” (QS Ali Imran 159)

Meskipun ayat ini ditunjukkan kepada Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam dalam membina ummatnya, tapi pembinaan itu bersifat universal. Ayat diatas juga berlaku bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Jika mereka  ingin agar anaknya lebih mendekat, maka jalan yang mestinya ditempuh adalah mendidik dengan lemah lembut, tidak keras dan kasar.

Berbuat lembut kepada anak, sama sekali bukan berarti harus menuruti semua permintaan anak. Orang tua terlebih dahulu memahami pendapat dan keinginan anak yang sering konyol serta tidak masuk akal, kemudian dengan penuh kasih sayang mengarahkannya untuk mengerti batas antara boleh dan tidak.

Perkataan kasar dan pemberian hukuman, adalah hal yang tidak diingini semua anak, walaupun menurut orang tua semua itu demi kebaikan anak semata. Yang dirasakan anak hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti ketidaksenangan orang tua kepadanya. Maka, satu kunci paling ampuh dalam ilmu mendidik anak adalah dengan berlaku lemah lembut penuh cinta kasih, walau dalam keadaan marah sekalipun.

wallahua’lam bishsowab

Sumber : Mendidik Dengan Cinta, Irawati Istadi